Tewas Karena Cacingan Akut : Kisah Raya dan Peran Rumah Teduh Sahabat Iin

Kisah Raya dan Peran Rumah Teduh Sahabat Iin.

Soratara.web.id — Rumah Teduh Sahabat Iin adalah yayasan kemanusiaan yang didirikan oleh Iin Achsien atau yang akrab disapa Teh Iin. Awalnya berdiri pada tahun 2011 sebagai gerakan sosial sederhana, yang fokus mendampingi pasien dhuafa berobat ke rumah sakit. Seiring waktu, gerakan ini semakin besar dan resmi berbentuk yayasan pada tahun 2015.

Rumah Teduh menyediakan rumah singgah untuk pasien tidak mampu yang sedang berobat. Mereka menanggung kebutuhan sehari-hari pasien, membantu administrasi kesehatan, hingga membiayai pengobatan ketika tidak ada jalan lain. Hingga kini, sudah ada sekitar 20 cabang Rumah Teduh yang tersebar di Bandung, Jakarta, Sukabumi, dan Malang.

Tragedi Raya

Kisah yang menggemparkan publik baru-baru ini adalah tentang Raya, seorang balita berusia 4 tahun asal Sukabumi. Pada 13 Juli 2025, Raya ditemukan dalam kondisi kritis oleh relawan Rumah Teduh. Tubuh mungilnya penuh cacing, dan dokter mendapati organ vitalnya, termasuk paru-paru hingga otak, sudah dipenuhi oleh ribuan cacing.

Kondisi ini diperparah dengan lingkungan tempat tinggal Raya yang tidak layak. Ia hidup di rumah panggung sederhana dengan kandang ayam di bawahnya. Anak-anak yang bermain di tanah sekitar rumah sangat mudah terpapar telur cacing yang masuk melalui tangan dan mulut.

Raya segera dibawa ke rumah sakit. Namun, masalah besar muncul ketika diketahui bahwa ia tidak memiliki identitas kependudukan. Orang tuanya adalah penyandang gangguan jiwa (ODGJ), dan pernikahan mereka tidak tercatat resmi. Akibatnya, Raya tidak punya akta kelahiran, kartu keluarga, maupun BPJS.

Perjuangan Rumah Teduh

Rumah sakit memberi batas waktu 3×24 jam kepada relawan untuk mengurus identitas Raya agar bisa menggunakan layanan BPJS. Namun, usaha ke berbagai dinas tidak membuahkan hasil. Bahkan relawan diarahkan untuk membawa Raya ke rumah sakit lain. Situasi ini menunjukkan betapa birokrasi menjadi penghalang besar bagi pasien miskin.

Akhirnya, Rumah Teduh menanggung biaya sendiri. Tagihan mencapai sekitar Rp 23 juta. Setelah ada keringanan dari rumah sakit, yayasan tetap harus membayar sekitar Rp 15 juta. Semua demi menyelamatkan nyawa Raya.

Sayangnya, meski dirawat intensif selama sembilan hari di ruang PICU, pada 22 Juli 2025 Raya meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi relawan, masyarakat, dan semua orang yang mengikuti kisahnya.

Sorotan Publik dan Pemerintah

Kematian Raya menimbulkan gelombang simpati sekaligus kemarahan publik. Banyak pihak menilai tragedi ini seharusnya tidak terjadi jika sistem kesehatan dan kependudukan lebih peka terhadap kondisi darurat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya turun tangan. Pada 19 Agustus 2025 ia menyampaikan permintaan maaf terbuka. Ia juga menegaskan akan memberi sanksi kepada aparat desa maupun dinas terkait yang lalai. Selain itu, ia memastikan bahwa keluarga Raya yang lain, yang diketahui menderita TBC, akan mendapat perawatan layak.

Refleksi dan Pelajaran

Kasus Raya adalah tamparan keras bagi semua pihak. Tragedi ini menyoroti tiga hal penting:

  • Administrasi sebagai penghalang hidup dan mati 

Birokrasi kesehatan seharusnya bisa lebih fleksibel dalam keadaan darurat, terutama bagi anak-anak yang tidak memiliki dokumen resmi.

  • Peran vital lembaga sosial

Rumah Teduh hadir sebagai penolong nyata ketika sistem formal gagal. Mereka mengorbankan dana besar dan tenaga demi pasien yang bahkan tidak mereka kenal.

  • Urgensi kepedulian kolektif

Masyarakat, pemerintah, dan organisasi sosial perlu bekerja sama. Anak-anak seperti Raya seharusnya tidak menjadi korban hanya karena masalah identitas.

Harapan ke Depan

Kematian Raya seharusnya tidak sia-sia. Peristiwa ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem administrasi kependudukan, memperkuat layanan posyandu, dan memberi perhatian lebih besar kepada keluarga-keluarga marginal.

Di sisi lain, keberadaan Rumah Teduh menunjukkan bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat. Dedikasi Teh Iin dan para relawan adalah bukti nyata bahwa kemanusiaan tak boleh kalah oleh birokrasi.

Semoga tidak ada lagi anak-anak lain yang bernasib sama seperti Raya. Setiap anak, siapa pun dia, berhak hidup sehat dan mendapat perawatan yang layak.


Sumber :

  • tirto.id
  • kumparan.com
  • sukabumiupdate.com