7 Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Pebisnis di Kota Banjar

foto : Instagram/mbiedebby

Soratara.web.id – Memulai usaha di Kota Banjar memang menjanjikan, apalagi dengan perkembangan sektor jasa, perdagangan, dan industri pengolahan yang terus tumbuh. Namun, ada sejumlah kesalahan umum yang sering dilakukan pelaku usaha sehingga bisnis mereka sulit berkembang atau bahkan tutup lebih cepat.

Berikut tujuh hal yang sebaiknya dihindari saat memulai bisnis di Kota Banjar :

1. Mengabaikan Hubungan Sosial

Di Kota Banjar, hubungan personal sangat berpengaruh pada keberlangsungan usaha. Banyak konsumen memilih bertransaksi dengan penjual yang mereka kenal atau minimal pernah berinteraksi sebelumnya. Mengabaikan interaksi sosial dengan lingkungan sekitar dapat membuat usaha sulit mendapatkan pelanggan awal.

2. Mematok Harga Terlalu Tinggi

Sebagian masyarakat mampu membeli produk berkualitas, namun mayoritas konsumen di Banjar masih sensitif terhadap harga. Menetapkan tarif yang terlalu tinggi seperti di kota besar tanpa menyesuaikan daya beli lokal berpotensi membuat calon pelanggan enggan mencoba.

3. Hanya Mengandalkan Promosi Offline

Promosi menggunakan spanduk atau brosur memang masih relevan, tetapi pemasaran melalui media sosial lokal seperti Facebook Group, WhatsApp, dan Instagram terbukti lebih cepat menjangkau masyarakat. Data BPS Kota Banjar (2024) mencatat pengguna internet meningkat 14% dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan potensi besar pasar online.

4. Melanggar Norma & Kebiasaan Lokal

Kota Banjar memiliki masyarakat yang menjunjung nilai agama dan adat. Desain promosi, nama usaha, atau konsep acara bisnis sebaiknya disesuaikan dengan norma yang berlaku agar tidak menimbulkan penolakan atau persepsi negatif.

5. Tidak Riset Lokasi Sebelum Membuka Usaha

Setiap kawasan di Kota Banjar memiliki pola keramaian yang berbeda. Area sekitar pasar ramai di pagi hari, sedangkan kawasan alun-alun ramai menjelang sore dan malam. Membuka usaha tanpa memahami pola ini berisiko sepi pengunjung di jam-jam strategis.

6. Mengabaikan Kualitas Pelayanan

Kualitas pelayanan menjadi faktor pembeda penting di pasar lokal. Pelayanan yang ramah, cepat, dan konsisten akan menciptakan kesan positif yang memicu promosi dari mulut ke mulut. Sebaliknya, pelayanan yang buruk akan cepat tersebar di lingkup masyarakat.

7. Mengabaikan Legalitas Usaha

Pemerintah Kota Banjar dalam beberapa tahun terakhir semakin aktif menertibkan usaha tanpa izin, terutama yang mengganggu lingkungan. Untuk usaha kuliner, sertifikat laik hygiene juga mulai sering diminta sebagai syarat operasional.

Pasar Kota Banjar menyimpan peluang besar bagi pelaku usaha yang mau menyesuaikan diri dengan karakter masyarakatnya. Memperhatikan hubungan sosial, harga, cara promosi, hingga legalitas usaha adalah langkah penting agar bisnis bisa bertahan dan berkembang.