Bukan Mitos! Ada Hewan di Laut yang Bisa Hidup Abadi

 

Turritopsis dohrnii disebut sebagai ubur-ubur abadi karena tidak bisa mati. Foto: Takashi Murai/The New York Times Syndicate/Redux

Soratara.web.id — Ditengah luasnya samudra, ada satu makhluk mungil seukuran kuku kelingking yang sering dijuluki “menipu kematian”: ubur-ubur abadi atau immortal jellyfish. Nama ilmiahnya Turritopsis dohrnii. Meski tampak rapuh, hewan ini menyimpan rahasia biologis menakjubkan—kemampuan untuk memutar balik usia dan kembali ke masa polip ketika menghadapi stres, cedera, atau kondisi lingkungan yang tidak bersahabat. Fenomena ini telah lama membuat ilmuwan tercengang dan membuka peluang baru dalam penelitian tentang penuaan serta regenerasi sel.

Keajaiban dari Laut Dalam

Turritopsis dohrnii pertama kali ditemukan di perairan Laut Mediterania, namun kini diketahui tersebar di berbagai samudra. Ukurannya sangat kecil, rata-rata hanya berdiameter 4–5 milimeter, dengan tubuh transparan dan tentakel yang hampir tak terlihat. Sekilas, ubur-ubur ini sama sekali tidak menonjol. Namun di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan kemampuan unik: membalikkan siklus hidup.

Tidak seperti makhluk lain yang menjalani “alur hidup satu arah” dari lahir, tumbuh, lalu menua dan mati, T. dohrnii bisa mengulang siklusnya dari awal. Ketika menghadapi bahaya atau kondisi ekstrem, ubur-ubur ini mengubah sel-selnya dan kembali ke bentuk polip—fase awal dalam siklus hidup cnidaria. Dari polip, ia dapat tumbuh menjadi ubur-ubur dewasa lagi. Proses ini secara teori bisa berlangsung berulang-ulang, membuatnya abadi secara biologis.

Bagaimana Prosesnya Bekerja?

Kunci keajaiban ini ada pada mekanisme transdiferensiasi. Dalam kondisi tertekan, sel-sel yang sudah dewasa pada tubuh medusa dapat berubah langsung menjadi tipe sel lain. Artinya, sel otot bisa berubah menjadi sel saraf, atau sel pencernaan menjadi sel epidermis. Dengan kata lain, ubur-ubur ini merombak ulang tubuhnya.

Fase kritisnya terjadi saat ubur-ubur dewasa membentuk kista kecil. Dari kista ini, jaringan baru terbentuk, lalu berkembang menjadi polip. Dari polip tersebut, koloni baru dapat tumbuh dan menghasilkan medusa baru. Tidak ada hewan multiseluler lain yang terbukti mampu melakukan “reset total” seperti ini.

“Abadi” Bukan Berarti Kebal Mati

Meski disebut abadi, ubur-ubur ini tetap bisa mati. Predator laut, penyakit, atau perubahan lingkungan yang ekstrem tetap dapat membunuhnya. Keabadian yang dimaksud adalah potensi biologis, bukan jaminan hidup tanpa akhir. Banyak individu T. dohrnii mati sebelum sempat melakukan siklus pembalikan usia. Karena itu, para peneliti menekankan bahwa istilah “immortal” perlu dipahami dengan hati-hati.

Riset Ilmiah Terbaru

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan berusaha mengurai rahasia abadi ubur-ubur ini di tingkat gen. Pada 2022, sebuah studi genomik membandingkan DNA T. dohrnii dengan kerabatnya, Turritopsis rubra, yang tidak memiliki kemampuan sama. Hasilnya, T. dohrnii memiliki jalur gen khusus terkait perbaikan DNA, pemeliharaan telomer, dan regenerasi sel punca—semua jalur penting yang juga terlibat dalam proses penuaan makhluk lain, termasuk manusia.

Studi lain menunjukkan bahwa pada fase transisi menuju polip, gen-gen tertentu yang mengatur regenerasi dan pertahanan sel justru aktif lebih kuat. Hal ini menegaskan bahwa ubur-ubur abadi memanfaatkan mekanisme yang juga dimiliki makhluk lain, tetapi dieksekusi dengan lebih efisien dan menyeluruh.

Tantangan di Laboratorium

Meskipun fenomenanya terdengar luar biasa, mempelajari ubur-ubur abadi bukan hal mudah. Ukurannya yang kecil dan siklus hidupnya yang kompleks membuat penelitian sulit dilakukan. Hanya sedikit laboratorium di dunia yang mampu memelihara T. dohrnii dalam jangka panjang. Banyak kali upaya kultur berakhir gagal karena kondisi laut yang sulit ditiru di laboratorium. Karena itu, bukti-bukti ilmiah masih terbatas dan terus dikembangkan.

Mengapa Tidak Semua Ubur-Ubur Bisa?

Sebagian orang mengira semua ubur-ubur bisa hidup abadi. Faktanya, hanya T. dohrnii yang terbukti dapat membalikkan siklus hidupnya dari fase dewasa kembali ke polip. Kerabat dekatnya, termasuk Turritopsis rubra, tidak memiliki kemampuan ini. Inilah yang membuat T. dohrnii begitu spesial di dunia hewan.

Potensi Bagi Ilmu Kedokteran

Fenomena ini memicu pertanyaan besar: apakah manusia bisa belajar dari ubur-ubur abadi? Jawabannya masih spekulatif. Namun, jalur genetik yang ditemukan pada T. dohrnii berhubungan dengan penuaan pada manusia, seperti telomer dan perbaikan DNA. Dengan memahami mekanisme ini, para ilmuwan berharap suatu hari bisa mengembangkan terapi regeneratif, memperlambat proses penuaan, atau membantu penyembuhan luka parah.

Meski demikian, peneliti juga mengingatkan bahwa mengadaptasi mekanisme ubur-ubur ke manusia bukan perkara sederhana. Tubuh manusia jauh lebih kompleks, dan percobaan “reset” sel tanpa kendali berisiko memicu kanker. Karena itu, penelitian masih fokus pada pemahaman dasar, bukan aplikasi langsung.

Dampak Ekologis

Selain sisi medis, fenomena ini juga menarik secara ekologis. Populasi ubur-ubur, termasuk T. dohrnii, bisa memengaruhi rantai makanan laut. Jika spesies ini memiliki peluang hidup lebih lama melalui siklus balik, ia berpotensi berperan lebih besar dalam ekosistem tertentu. Namun karena ukurannya kecil dan sulit diamati, dampak ekologis ubur-ubur abadi masih belum sepenuhnya dipahami.

Fakta Singkat Tentang Ubur-Ubur Abadi

  • Nama ilmiah: Turritopsis dohrnii
  • Ukuran: ±4–5 mm, transparan
  • Habitat: Laut Mediterania, kini ditemukan di berbagai lautan
  • Kemampuan unik: Membalikkan siklus hidup dari medusa ke polip
  • Proses kunci: Transdiferensiasi dan pembentukan kista
  • Status: Abadi secara biologis, tetapi tidak kebal predator atau penyakit

Fenomena ubur-ubur abadi menjadi salah satu contoh betapa luar biasanya strategi kehidupan di alam. Hewan mungil yang hampir tak terlihat ini mampu menantang konsep dasar biologi tentang penuaan. Walau belum bisa diterapkan langsung bagi manusia, penelitian tentang Turritopsis dohrnii telah membuka cakrawala baru dalam pemahaman tentang umur panjang, regenerasi, dan daya tahan hidup.

Seperti samudra yang selalu menyimpan misteri, ubur-ubur abadi mengingatkan kita bahwa masih banyak rahasia kehidupan yang belum terungkap. Siapa tahu, suatu hari nanti rahasia yang tersimpan dalam tubuh mungilnya dapat membantu umat manusia memahami cara memperpanjang hidup dengan lebih sehat dan bermakna.


Sumber :
  • Natural History Museum UK, 
  • PNAS (2022), 
  • Genome Biology and Evolution (2021), 
  • Smithsonian Magazine, 
  • American Museum of Natural History