Banjar Kota “Ripuh” yang Kini Menyulut Semangat Perubahan
![]() |
| Taman Kota Banjar Lapang Bhakti. Foto : Mbie Debby |
Kota Banjar, biasanya identik dengan kesejukan udara atau kulinernya yang khas, belakangan tiba-tiba jadi sorotan netizen. Kata “ripuh” (dalam bahasa Sunda berarti susah atau tak nyaman) mencuat sebagai deskripsi viral yang dilempar oleh beberapa pihak—termasuk dari Gubernur Dedi Mulyadi—dan kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial .
Viral Karena “Ripuh”, Kenapa?
Ungkapan “Banjar kota ripuh, teu pantes disebut kota, cukup desa saja” bukan sekadar kritik sarkastik. Akademisi seperti Aan Alamsyah bahkan menyatakan bahwa julukan “ripuh” itu mencerminkan realita yang mereka lihat di lapangan . Netizen menambahkannya dengan reaksi pedas:
“Bener eta teh, kota paling susah... cukup desa Banjar.”“Lokasi kecil, jalan rusak, duitnya habis karena korupsi.”
Dari Viral ke Dorongan Aksi Nyata
Untungnya, viralnya ungkapan itu tidak semata jadi celaan. Justru, memicu perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Banjar. Dedi Mulyadi berjanji bahwa dalam 3 tahun, jalan-jalan butut di Banjar akan “leucir” alias mulus dan layak . Wali Kota H. Sudarsono pun menegaskan bahwa dalam 5 tahun masa jabatannya, semua jalan kota yang rusak akan diperbaiki secara bertahap—dengan perhatian khusus pada prioritas dan anggaran .
Aksi ini menunjukkan transformasi dari kritik menjadi gerakan kolektif: wacana berubah menjadi kebijakan, viral berubah menjadi pembangunan.
Kisah Kebersihan yang Mendunia
Di sisi lain, Banjar juga viral dengan citra positif, melalui video content creator Unreznan. Dalam unggahannya, ia memuji suasana kota yang bersih dari sampah. Jalanan di sekitar sekolah, fasilitas olahraga, hingga sekolah itu sendiri digambarkan rapi dan layak—“debu saja malu nongkrong di sini” katanya . Ini jadi bukti bahwa Banjar punya sisi elok yang bisa dikembangkan dan ditonjolkan.
Bagaimana Kota Banjar bisa Menjadi Teladan?
1. Terbuka terhadap Kritikan, Proaktif dalam Perbaikan
Daripada menutup mata, pemerintah Kota Banjar malah merangkul kritik sebagai pemicu perubahan. Ini pelajaran penting: kepekaan terhadap aspirasi publik adalah pondasi kota yang adaptif dan progresif.
2. Ajak Warga Bersama Merawat Kota
Kebersihan yang dipuji Unreznan juga menunjukkan potensi besar masyarakat. Bila diberi inspirasi dan ruang, warga bisa berperan aktif menjaga lingkungan—melalui gotong-royong, edukasi sampah, atau komunitas sadar kota.
3. Bangun Infrastruktur, Bangun Semangat
Saat jalan diperbaiki, bukan hanya beton atau aspal yang diperbaharui, tapi semangat dan kepercayaan publik juga tumbuh. Setiap ruas jalan yang mulus memberi pesan: pemerintah hadir dan peduli.
4. Sosial Media Bukan Ajang Hanya untuk Mengeluh
Viral Banjar ini membuktikan bahwa sosial media dapat jadi arena kritik sekaligus panggung solusi. Bila direspons dengan baik lewat kebijakan nyata, energi negatif bisa dialihkan menjadi energi membangun.
Optimisme yang Terbukti
Kini, Kota Banjar menatap masa depan dengan optimisme. Perbaikannya sedang berjalan, citra bersih mulai direfleksikan lewat pandangan netizen, dan warganya pun semakin sadar bahwa mereka punya kekuatan untuk menawarkan wajah terbaik.
Sekarang, warga Banjar, mari kita jadikan ini momentum untuk bersama mengubah stigma “ripuh” menjadi “ramah”—Bukan hanya jalan yang mulus, tapi juga semangat, kebersamaan, dan harapan yang menyala. Jadikan kritik sebagai bahan bakar, bukan bara pemusnah; dan kebersihan sebagai tanda cinta kita terhadap kota sendiri.
Sumber :
- Harapan Rakyat. “Banjar Kota Ripuh, Netizen: Tak Pantas Disebut Kota, Harusnya Cukup Desa.”
- Kabar Banjar Pikiran Rakyat. “KDM Janjikan Jalan Butut Kota Banjar Leucir Selama 3 Tahun.”
- Harapan Rakyat. “Konten Kreator Unreznan Kagum dengan Kebersihan Kota Banjar, Debu Aja Malu Nongkrong di Sini.”
Tags:
Hiburan
